Kisah Petani dan Perintang di Jalan
Dahulu kala ada seorang raja yang pada suatu ketika meletakkan sebongkah batu
besar di sebuah jalan raya. Kemudian ia bersembunyi untuk melihat apakah ada
orang yang menggeser batu besar yang merintangi keleluasaan lalu lintas itu.
Beberapa saudagar terkaya dan bangsawan kerajaan itu, ketika berhadapan dengan
batu besar itu lantas membelokkan langkah, mengitarinya agar bisa lewat. Banyak
yang dengan lantang mengecam raja karena tidak memperhatikan keberesan kondisi
jalan; tetapi tak seorangpun berbuat sesuatu untuk menyingkirkan batu besar
itu. Kemudian lewatlah seorang petani, membawa sayur-sayuran. Ketika langkahnya
terhambat sesampainya di perintang jalan itu, ia meletakkan bebannya lalu
berusaha menggeser batu besar itu ke pinggir. Dengan susah payah, ia akhirnya
berhasil.
Ketika petani itu hendak mengangkat
lagi sayur-sayuran bawaannya tadi, dilihatnya ada sebuah dompet tergeletak di tengah
jalan, ditempat batu besar tadi berada. Dompet itu berisi uang emas yang tidak
sedikit serta sepucuk surat
dari raja yang menyatakan bahwa uang emas itu diperuntukkan bagi orang yang
menyingkirkan batu besar itu dari tengah jalan.
Dari kejadian itu si petani menarik
pelajaran yang takkan pernah dimengerti oleh banyak orang : setiap rintangan
merupakan peluang untuk memperbaiki keadaan.
Kado Istimewa
Bisa jadi saya anak yang paling malang di antara anak-anak lain di
kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di
sekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah
untuk mereka-reka berapa uang jajan si Adi, apa yang selalu dibeli
Rena, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan Sukma. Bahkan
untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun ibu tak
melakukannya.
Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas
kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun
Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun,
dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun.
Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.
"Ibu yang akan kasih kamu kado..." sapa ibu mengagetkan lamunanku.
Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa
yang akan diberikan ibu. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari
mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku.
Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran
darahku. Doa ibu, jauh lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak
bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah
dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa
ibu. Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna
dari gaun ulang tahun milik siapapun.
Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat
dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu
menandinginya, kecupan ibu adalah kado termahal yang pernah kuterima.
Kemarin, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya
menangis karena dua sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat
di lutut kanan, dan kemudi sepeda saya bengkok. Bapak segera
mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku. Tak ragu, ibu
mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka di kakiku.
Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari
pertama sekolah. Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan
setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku,
bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih
mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-teman baru
itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan
sekali kecupan di ubun-ubunku, ibu berkata, "Masuklah, anak ibu kan jagoan..."
Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya
kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak
kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu,
sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di kelas, dan yang
paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di
kelas. Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di
pinggir tempat tidurku sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman
terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku,
membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil
kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam.
Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibu lah kado yang paling kuharapkan
di setiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa
lebih kuinginkan dari sekadar ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya.
Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima
kasih Allah yang masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di
hari terindah ini. Dan saya selalu berharap, di tahun depan ibu masih
tetap menjadi kado istimewa.
Kisah Michael Faraday
Di atas sebuah kandang kuda di London
menetap seorang pemuda melarat, Michael Faraday, yang tujuh tahun lamanya
menjadi tukang jilid dan penjual buku. Suatu hari, ketika ia sedang menjilid
Encyclopedia Brittanica, perhatiannya tertarik pada karangan tentang listrik
dan ia membacanya sampai habis. Ia membeli botol kecil, panci tua, dan
alat-alat sederhana lainnya untuk melakukan percobaan-percobaan.
Salah seorang pembeli buku menaruh perhatian pada pemuda itu dan mengajak ia
mendengarkan ceramah tentang ilmu kimia oleh Sir Humphry Davy. Faraday
mengumpulkan semua keberaniannya dan menulis sepucuk surat kepada sarjana besar itu.
Pada suatu malam, sebelum Michael
tidur, kereta Sir Humphry berhenti di depan rumahnya yang reyot itu. Seorang
kurir memberikan undangan kepada Faraday untuk berkunjung ke rumah sarjana itu.
Michael hampir-hampir tidak mempercayai hal itu. Esoknya, ia menerima usul Sir
Humphry Davy dan bekerja pada ahli kimia itu. Ia membersihkan alat-alat
laboratorium dan membawanya ke ruang kuliah.
Dengan penuh minat dan perhatian, ia mengikuti semua gerak-gerik Davy saat yang
disebut terakhir itu mengenakan topeng kaca dan mengadakan percobaan-percobaan
berbahaya dengan zat-zat yang bisa meletus. Michael pun dengan rajin belajar
dan melakukan percobaan-percobaan.
Tak lama kemudian, pemuda miskin ini diminta untuk memberikan ceramah di depan
Lembaga Ilmu Alam Inggris dan diangkat menjadi profesor di Akademi Kerajaan di
Woolwich. Ia menjadi ahli ilmu alam terbesar di jamannya. Apabila ada orang
yang bertanya kepada Sir Humphry Davy, apakah penemuannya yang terbesar, maka jawabannya
adalah: Michael Faraday.
Arthur Barry
Arthur Barry
Pencuri ini bernama Arthur Barry. Dia adalah seorang pencuri yang luar biasa dan spesialisasinya adalah mencuri perhiasan. Barry mendapat reputasi internasional sebagai salah satu pencuri paling terkemuka sepanjang masa. Dia bukan hanya seorang pencuri perhiasan yang sukses, dia juga seorang penilai barang seni. Bahkan dia menjadi orang yang tinggi hati dan tidak bersedia mencuri dari sembarang orang.
Para "prospek"-nya bukan hanya harus mempunyai uang dan perhiasan untuk bisa memancingnya berkunjung, tetapi nama mereka juga harus terdaftar di eselon atas masyarakat. Kurang lebih menjadi lambang status bila mereka dikunjungi dan dirampok oleh "pencuri ksatria" ini. Perasaan ini menyebabkan kepolisian sangat malu.
Suatu malam, Barry tertangkap ketika sedang merampok dan ditembak tiga kali. Dengan peluru bersarang di tubuhnya, pecahan kaca di matanya, dan menderita rasa sakit yang luar biasa, dia membuat pernyataan yang tidak terlalu di luar dugaan, "Saya tidak akan melakukannya lagi."
Tidak lama setelah dipenjara, dia berhasil meloloskan diri, dan selama tiga tahun berikutnya hidup bebas di luar penjara. Kemudian seorang wanita yang cemburu melaporkannya dan Barry menjalani hukuman penjara selama delapan belas tahun. Setelah dibebaskan, Barry memenuhi janjinya. Dia tidak pernah menjadi pencuri perhiasan lagi. Bahkan dia menetap di sebuah kota kecil di New England dan menjalani kehidupan sebagai warga teladan. Warga kota setempat menghormatinya dan menjadikannya ketua organisasi veteran lokal.
Walau demikian, akhirnya bocor berita bahwa Arthur Barry, pencuri permata yang terkenal itu, berada di tengah-tengah mereka. Wartawan dari seluruh negeri berdatangan ke kota kecil itu untuk mewawancarainya. Mereka mengajukan sejumlah pertanyaan dan akhirnya seorang wartawan muda mendapatkan inti persoalan ketika dia mengajukan pertanyaan yang paling dalam, "Pak Barry," dia bertanya, "Anda mencuri dari banyak orang kaya selama tahun-tahun kehidupan Anda sebagai pencuri, tetapi saya ingin tahu apakah Anda masih ingat siapa yang paling banyak Anda curi?"
Tanpa keraguan sedikitpun, Barry menjawab, "Itu mudah. Dengan bakat dan kepandaian yang saya miliki, seharusnya saya menjadi usahawan yang sukses, seorang baron di Wall Street, dan warga masyarakat yang berjasa memberikan banyak sumbangan, tetapi sebaiknya saya memilih kehidupan sebagai pencuri dan melewatkan dua pertiga masa dewasa saya di balik terali besi penjara. Ya, orang yang paling banyak saya curi adalah diri saya sendiri!"
Apakah kita adalah "Arthur Barry" yang lain, yang "salah" memanfaatkan bakat dan kemampuan kita dan menghabiskan sebagian besar masa produktif kita dalam "terali besi" yang kita ciptakan sendiri?
Cari Artikel
rss feed
statistik