Jangan
Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terhebat dalam perang dunia,padahal
mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka
peroleh adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah tinggi dan penyakit
gula. Mereka selalu merasa terlibat dengan semua peristiwa. Mereka marah dengan
naiknya harga-harga, gusar karena hujan tak segera turun, dan kalang kabut tak
karuan karena turunnya nilai mata uang. Mereka selalu berada dalam kegelisahan
dan kesedihan yang tak berkesudahan.
{ Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan
yang keras ditujukan kepada mereka.}
(QS. Al-Munâfiqun: 4)
Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia di atas kepala.
Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan di dalam usus. Orang
yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua isu dan
kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil, dan mudah terguncang karena
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hari seperti ini sanga potensial menjadi awal
kehancuran. Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa bertambah
keimanannya dengan nasehat-nasehat dan ibrah. Sedangkan mereka yang berpegang
pada prinsip yang pernah akan semakin takut terhadap keguncangan. Di hadapan
segala bencana dan musibah, hal yang paling berguna adalah hati yang berani.
Seorang pemberani memiliki sikap yang teguh dan emosi yang terkendali,
keyakinan yang menancap tajam, syaraf yang
dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap
hari, dengan pedang khayalan, ramalan, kabar yang tak jelas, dan kasak-kusuk.
Jika Anda
menginginkan sebuah kehidupan yang berlandasan kuat, maka hadapilah semua
permasalahan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki
keyakinan. Jangan merasa terjepit oleh semua tipu daya rnereka. Jadilah orang
yang lebih kuat dan peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan
lebih kuat dan angin topan. Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah,
betapa hari-hari selalu mengguncang dirinya.
{ Dan, sungguh kamu akan mendapati mereka,
manusia yang paling loba kepada kehidu pan (di dunia) } (QS. A1-Baqarah:
96)
Sedangkan orang-orang yang memiliki hati yang kuat akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah dan senantiasa yakin dengan janji- Nya.
{ Lalu, menurunkan ketenangan atas mereka. } (QS. Al-Fath: 18)
-- sumber :DR Aidh Al-Qarni, La Tahzan (Jangan Bersedih),---
“Katakanlah:
‘Berjalanlah di muka bumi!”
Di antara
perkara yang dapat melapangkan dada dan melenyapkan awan kesedihan dan
kesusahan adalah berjalan menjelajah negeri dan membaca “buku penciptaan” yang
terbuka lebar ini untuk menyaksikan bagaimana pena-pena kekuasaan
menuliskan tanda-tanda keindahan di atas lembaran-lembaran kehidupan. Betapa
tidak, karena Anda akan banyak menyaksikan taman, kebun, sawah dan bukit —bukit
hijau yang indah mempesona.
Keluarlah dari
rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda, di depan mata Anda, dan di
belakang Anda! Dakilah gunung-gunung, jamahlah tanah di lembah-lembah,
panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumkan
hidungmu atas bunga mawar! Pada saat-saat yang demikian itu, Anda akan
menemukan jiwa Anda benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau
melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup
kedua mata Anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang
sangat luas mi dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Mengurung diri
dalam kamar yang sunyi bersama kekosongan yang membahayakan merupakan cara
ampuh untuk bunuh diri. Kamar Anda
bukanlah alam semesta. Dan Anda bukan manusia satu-satunya di alam ini. Karena itu,
mengapa Anda harus menyerahkan diri kepada “pembisik-pembisik” kesusahan dan
kesedihan? Tidakkah Anda sebaiknya menyatukan pandangan, pendengaran dan hati
untuk rnenyeru kepada diri Anda sendiri,
{Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat. }
(QS. At-Taubah: 41)
Marilah sekali-kali kita membaca
al-Qur’an di tepi-tepi sungai, di pinggiran hutan yang rimbun, di antara
burung-burung yang sedang berkicau membaca untaian puisi cinta, atau di depan gemericik
aliran air sungai yang sedang rnengisahkan perjalanannya dan dari hulu ke hilir.
Menjelajahi pelosok-pelosok negeri
merupakan kegiatan yang sangat rnenyenangkan. Bahkan, para dokter sudah banyak
merekornendasikan kepada mereka yang sedang stres menghadapi suatu persoalan
dan tertekan oleh beratnya beban hidup, agar melepaskan sernua itu dengan
berjalan ke tempat-tempat indah yang tak pernah ia kunjungi. Karena itu, marilah
sesekali kita berjalan menjelajah pelosok negeri untuk mencari ketenangan,
bergembira, berpikir, dan sekaligus rnenghayati ciptaan Allah yang sangat luas
ini.
{Dan, mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
“Ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan inii dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau. “}
(QS. Al ‘Imrân: 191)
-- sumber :DR Aidh Al-Qarni, La Tahzan (Jangan Bersedih),---
Sabar Itu
Indah
Bersabar diri
merupakan ciri orang-orang yang rnenghadapi pelbagai kesulitan dengan lapang
dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar. Karena itu, jika kita
tidak bersabar, maka apa yang bisa kita lakukan?
Apakah Anda memiliki solusi lain selain bersabar? Dan apakah Anda mengetahui
senjata lain yang dapat kita gunakan selain kesabaran?
Konon, seorang pembesar negeri ini memiliki ‘ladang gernbalaan’ dan ‘lapangan’ yang
selalu ditimpa musibah; setiap kali selesai dari satu kesulitan, kesulitan yang
lain selalu datang mengunjunginya. Meski demikian, ternyata ia tetap berlindung
di balik perisai kesabaran dan mengenakan tameng keyakinan kepada Allah.
Demikian itulah orang-orang mulia dan terhormat
bertarung melawan setiap kesulitan dan menjatuhkan semua bencana itu terkapar
di atas tanah. Syahdan, ketika menjenguk Abu Bakar yang sedang terbaring sakit,
para sahabat berkata kepadanya, “Bolehkah kami panggilkan seorang tabib untuk
mengobatimu?”
“Seorang tabib telah memeriksaku!,” jawab Abu Bakar.
Ia berkata, Sesungguhnya aku boleh rnelakukan apa saja yang aku mau.
Bersabarlah karena Allah! Dan sebaiknya Anda bersabar sebagaimana kesabaran
orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik,
mengharap pahala, dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar
permasalahan yang Anda hadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu
sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama
kesulitan. Dan, dalam setiap
kesuhtan itu ada kemudahan. Saya pernah membaca biografi sejumlah orang
terkenal, dan saya tertegun dengan besarnya kesabaran dan agungnya ketabahan
mereka.
Deraan musibah itu mereka anggap sebagai tetesan air dingin yang memercik di
kepala mereka. Mereka tak tergoyahkan Laksana gunung, dan menancap jauh ke
dalam kebenaran. Dalam waktu singkat mereka dapat melupakan semua kesedihan itu
dan wajah mereka kembali berbinar menyorotkan cahaya kemenangan. Bahkan, ada
satu di antara mereka yang tidak hanya cukup bersabar, namun justru menghadang
semua bencana itu dan berteriak lantang di hadapan musibah-musibah itu sambil
menyatakan tantangannya.
-- sumber :DR Aidh Al-Qarni, La Tahzan (Jangan Bersedih),---
“Cukuplah
Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
Menyerahkan semua perkara kepada
Allah, bertawakal kepada-Nya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya,
ridha dengan apa yang dilakukan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu
dengan sabar pertolongan dari-Nya merupakan buah keimanan yang paling agung dan
sifat paling mulia dan seorang mukmin. Dan ketika seorang hamba tenang bahwa
apa yang akan terjadi itu baik baginya, dan ia rnenggantungkan setiap
permasalahannya hanya kepada Rabb-nya, maka ia akan mendapatkan
pengawasan, perlindungan, pencukupan serta pertolongan dan Allah.
Syahdan, ketika Nabi Ibrahim a.s. dilempar ke dalam kobaran api, ia
mengucapkan, “Hasbunallah wa ni’mal wakil,” maka Allah pun menjadikan
api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar. Demikian
halnya yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala mendapat ancaman
dari pasukan kafir dan penyembah berhala, mereka juga mengucapkan, “Has bunallah
wa ni’mal wakil.”
{ (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah
sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang
besar dari) Allah,mereka tidakmendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti
keridhaan Allah. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar. }
(QS. Ali ‘Imrân: 173-174)
Manusia tidak akan pernah mampu
melawan setiap bencana, menaklukkan setiap derita, dan mencegah setiap
malapetaka dengan kekuatannya sendiri. Sebab, manusia adalah makhluk yang
sangat lemah. Mereka akan mampu rnenghadapi semua itu dengan baik hanya bila bertawakal
kepada Rabb-nya, percaya sepenuhnya kepada Pelindungnya, dan menyerahkan semua
perkara kepada-Nya. Karena, jika tidak demikian, jalan keluar mana lagi yang
akan ditempuh manusia yang lemah tak berdaya ini saat menghadapi ujian dan
cobaan?
{Dan, hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar
beriman. }
Wahai orang yang
ingin menyadarkan dirinya, bertawakallah kepada Yang Maha Kuat dan Maha Kaya
yang kekuatan amat besar ada pada-Nya. Itu bila Anda mau keluar dari kesusahan
dan selarnat dari bencana. J adikanlah “Hasbunallâh wa ni’mal wakil” syiar
dan semboyan yang selalu menyelimuti langkah hidup Anda. Jika harta Anda
sedikit, hutang Anda banyak, sumber penghidupan Anda kering, dan mata
pencaharian Anda terhenti, rnengadulah kepada Rabb-mu seraya mengucapkan, “Hasbunallâh
wa ni’mal wakil”
J ika Anda takut kepada seorang musuh, cemas terhadap
perlakuan orang zalim, atau khawatir dengan suatu bencana, maka ucapkanlah
dengan
tulus kalimat ini: “Hasbunallâh wa ni’mal wakil.”
{Dan, cukuplah Rabb-mu menjadi Pemberi
Petunjuk dan Penolong. }
(QS.
A1-Furqân: 31)
-- sumber :DR Aidh Al-Qarni, La Tahzan (Jangan Bersedih),---